MEMBENTUK KARAKTER SISWA DENGAN MENELAAH TEMBANG PANGKUR SERAT WEDHATAMA Oleh : Hastuti Dwi Wahyuni, S.S Guru Bahasa Jawa SMA Muhammadiyah 3 Surakarta Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadikan pendidikan karakter sebagai acuan pendidikan nasional untuk membekali siswa dengan jiwa Pancasila dan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan (Pasal 2). Perpres ini menjadi landasan awal untuk kembali meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 sebagai rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan, perlu mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi siswa guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada siswa yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. ( www.maxmanroe.com/vid/umum/pendidikan-karakter.html ) Untuk itulah, pelajaran Bahasa Jawa mengajak siswa untuk mempelajari Serat Wedhatama. Serat Wedhatama adalah sastra tembang atau kidungan jawa karya KGPAA Mangkunegara IV yang di dalamnya terkandung ajaran moral. Secara harfiah, Serat Wedhatama berasal dari kata-kata: serat yang berarti tulisan; wedha yang berarti ajaran atau ilmu pengetahuan; dan tama berasal dari kata utama yang berarti kebaikan. Jadi Serat Wedhatama berarti tulisan yang berisi tentang ajaran kebaikan atau tuntunan moral. Serat Wedhatama adalah karya sastra dalam bentuk tembang, sebagaimana dinyatakan pada bagian awal buku tersebut yang berbunyi: sinawung resmining kidung, yang artinya: dihias dengan indahnya lagu (tembang). Serat Wedhatama sendiri terdiri dar 100 pupuh ( bait ) yang terbagi dalam 5 tembang yaitu Pangkur 14 bait, Sinom 18 bait, Pocung 15 bait, Gambuh 35 bait, dan Kinanthi 18 bait. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tembang Pangkur serat Wedhatama yang dipelajari oleh siswa antara lain : 1. Bait ke 1. Dengan menjauhi sifat angkara murka (mingkar mingkur ing angkara), Sri Mangkunegara IV berkenan mendidik para putra, yang dirangkai dalam bentuk tembang (sinawung resmining kidung). Dalam hubungan ini, agama merupakan pegangan hidup yang berharga (agama ageming aji). 2. Bait ke 2. Petuah agar jangan menjadi orang yang lemah budinya. Sebab, jika lemah budinya dan tumpul perasaannya (yen tan mikani rasa), meskipun sudah tua, ia bagaikan sepah tebu dan ketika dalam pertemuan sering bertindak memalukan (gonyak-ganyuk nglelingsemi). 3. Bait ke 3-4. Petuah agar tidak bertindak semaunya sendiri (nggugu karepe priyangga). Sifatnya, jika berbicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, tidak mau dianggap bodoh, dan mabuk pujian. Adapun perilaku orang yang dungu, bualannya tidak karuan dan tidak masuk akal (ngandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah). Namun bagi orang yang bijaksana, ditanggapi dengan cara yang halus (sinamun ing samudana) dan baik (sesadon ing adu manis). 4. Bait ke 5. Ajaran tentang ilmu sejati, yang membuat nyaman di hati. Ilmu ini mengajarkan agar menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh (bungah ingaran cubluk) dan tetap gembira jika dihina (sukeng tyas yen den ina). Tidak demikian halnya dengan si Dungu yang selalu sombong (anggung gumrunggung) dan ingin dipuji setiap hari (ugungan sedina-dina). 5. Bait ke 6-8. Petuah yang menggambarkan tentang hidup yang hanya sekali, namun berantakan (uripe sepisan rusak). Orang yang demikian, pikirannya tidak berkembang dan kacau (nora mulur nalare pating seluwir), ibarat dalam gua yang gelap (kadi ta guwa kang sirung), picik pengetahuannya, namun sombong. Anak yang demikian, jika menghadapi kesulitan, ia mengandalkan orang tuanya yang bangsawan (pelayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur). Wataknya tampak ketika bertutur kata, tak mau kalah (lumuh asor kudu unggul), sombong dan meremehkan orang lain (sumengah sesongaran). 6. Bait ke 9. Ajaran tentang keburukan ilmu karang (ilmu gaib, ilmu kekebalan, ilmu sihir). Ilmu tersebut diibaratkan bedak, tidak meresap ke dalam jiwa (iku boreh upaminipun, tan rumasuk ing jasad), dan jika menghadapi mara bahaya tidak dapat diandalkan. 7. Bait ke 10-11. Petuah agar berguru tentang kebaikan (puruita kang patut), serta dapat menempatkan diri (traping angganira) dan mematuhi tatanan negara (angger ugering keprabon). Juga agar berguru pada orang bijak yang berjiwa pertapa (sarjana kang martapi), untuk memahami ilmu yang hakiki, tidak harus kepada orang yang lebih tua, namun bisa juga kepada anak muda ataupun orang kebanyakan (tan mesthi neng janma wredha, tuwin mudha sudra). 8. Bait ke 12. Ajaran tentang sebutan “orang tua” (wong tuwa, wong sepuh).Dia adalah orang yang memahami wahyu Allah, menguasai ilmu kesempurnaan, serta memahami makna dwitunggal (roroning atunggil, yaitu makhluk dan Khalik, titah dan yang menitahkan). Orang disebut “orang tua” bila ia tidak dikuasai hawa nafsu (lire sepuh sepi hawa). 9. Bait ke 13-14. Ajaran tentang pemahaman terhadap sukma (roh, namun ada yang memaknai Tuhan) (tan samar pamoring sukma). Caranya dengan diresapi dan direnungkan di kala sepi (sinuksmaya winahya ing asepi), di simpan di lubuk hati (sinimpen telenging kalbu), dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, bagaikan mimpi. Dalam kondisi demikian itu lah hadirnya rasa yang sejati. Jika mampu mencapainya, ia telah mendapatkan anugerah Tuhan. Ia mampu mencapai alam kosong (bali alaming ngasuwung), kembali ke asal mula (mulih mula mulanira), tidak mabuk dunia yang sifatnya kuasa-menguasai. Berdasar uraian tersebut tampak bahwa Serat Wedhatama menekankan pentingnya pendidikan bagi setiap orang. Sebagaimana ajaran-ajaran dalam kultur Jawa, pendidikan yang dimaksud lebih menekankan pada pengembangan hati, rasa, emosionalitas, atau bahkan spiritualitas. Hal itu terungkap pada pesan agar: mempertajam perasaan (angulah lantiping ati), menyingkirkan hawa nafsu agar menjadi manusia yang berbudi luhur. Semoga dengan menelaah tembang Pangkur Serat Wedhatama ini akan semakin memperkuat karakter siswa kita. IDENTITAS PENULIS NAMA PENULIS : HASTUTI DWI WAHYUNI, S.S ALAMAT : JETIS RT. 5 RW 3 KADIPIRO INSTANSI : SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA NO WA : 085701935143 / 085647124142

Komentar